Tanggapan Untuk
Pendapat Pak Habibie
Di
Republika Senin 19 Januari 2004, ditulis bahwa :
“....
Menurut Habibie, pusat iptek ini harus berkaitan dengan agro-industri, industri
manufaktur, dan industri jasa yang pasarnya potensial ....”
Tanggapan :
Sepertinya kita harus mengkaji lebih dalam mengenai masalah ini. Pendapat Pak
Habibie, bahwa kita harus memulai dari hilir baru kemudian ke hulu, seperti
kasus IPTN, harus dikaji lagi. Buktinya IPTN ambruk !!
Berkaitan
dengan ini, menurut saya, harus ada penelitian & investigasi yang serius
mengenai arah riset bahkan arah kebijakan negeri kita ini. Dan yang perlu
dicatat, ini harus dilakukan dengan serius, jangan setengah-setengah, jangan
sambil ngurus partai (saran untuk Pak Hatta Rajasa) atau nyambi kerjaan yang
lain (seperti yang pernah dilakukan Pak Habibie). Kita membutuhkan satu ilmuwan
sejati, ketimbang 1000 superman seperti yang kerjaannya nggak ada yang
beres.(Lihat saja Agum Gumelar yang merangkap jabatan sebagai Menteri &
ketum PSSI, tetapi nggak ada prestasinya sama sekali, puncaknya adalah ketika
Indonesia kalah dari Vietnam & Thailand di Sea Games kemarin !)
Investigasi
yang harus dilakukan adalah, coba diteliti lagi mengenai berbagai negara kaya
yang memberikan perhatiannya begitu besar kepada riset. Saya melihat ada
beberapa negara maju yang memiliki karakter riset tersendiri, sebagaimana
digambarkan di bawah ini. Karakter riset merupakan cermin dari alokasi dana
yang diberikan oleh pemerintah negara tersebut kepada bidang yang berkaitan. Memang
saya tidak mengumpulkan data akurat mengenai hal ini, karena tidak setiap data
yang saya baca tidak selalu dikumpulkan.
(Maaf, Tabel ini belum lengkap)
|
No. |
Negara |
Karakter Riset |
Gaji Mahasiswa Doktor |
GDP |
Bentuk Negara |
Keterangan |
|
1. |
Jerman |
Aplikatif |
Euro 900 s/d 1800, 00 - |
|
Sosialis |
: |
|
2. |
Inggris |
Sains |
? (~ USD 1500,00) |
|
Sosialis, Kerajaan |
|
|
3. |
US |
Aplikatif & Sains |
USD ~1500,00 |
|
Kapitalis, |
|
|
4. |
Jepang |
Aplikatif |
USD ~1700,00 |
|
Kerajaan, Sosialis (?) |
|
|
5. |
Swedia |
Sains |
USD ~ 2000,00 |
|
.., Sosialis |
|
Indonesia adalah negara yang sangat luas, memiliki begitu
banyak ragam suku & budaya, dan juga mayoritasnya beragama Islam. Islam adalah
agama yang sangat menekankan pentingnya Idealisme & Islam sangat tidak
mendukung budaya menjadi budak bagi manusia / bangsa lain. Mengeksploitasi
bidang Jasa & Manufaktur, sebagaimana yang dilakukan negara-negara budak
atau buffer Amerika, seperti Singapura,
& Taiwan, menurut saya tidak begitu cocok dengan mental yang diajarkan
Islam. Sehingga, sekali lagi, harus ada kajian yang lebih serius untuk
menentukan arah kebijakan riset bangsa ini.
Seorang Menristek seharusnya adalah seorang ilmuwan sejati
yang memiliki track record yang baik dalam menjalankan riset, bukannya seorang
penjilat & menjadikan kerjaannya sebagai sambilan.
Satu lagi yang perlu diingat, bahwa mental riset seringkali
bukannya mental pedagang yang melihat peluang riset berdasarkan pasar yang
sekarang ada, tetapi seorang researcher seringkali memilki ambisi untuk membuat
pasar. Seorang ilmuwan seringkali bermimpi, bagaimana orang lain harus mengikuti
idealisme saya ... bukannya bermental penjilat yang hanya mengikut selera
kemana angin bertiup !!
Wassalam,
Agung Trisetyarso.